london-bridges – Situasi geopolitik di Selat Hormuz kembali memanas per hari ini, Senin, 13 Juli 2026, dan memberikan dampak langsung yang signifikan terhadap pasar energi global.
Berikut adalah ringkasan situasi terkini berdasarkan perkembangan terakhir:
1. Eskalasi Konflik AS-Iran
Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat drastis setelah terjadi aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran pada akhir pekan lalu. Iran dilaporkan telah melakukan serangan ke wilayah Qatar dan Uni Emirat Arab, yang kemudian dibalas oleh pihak AS. Aksi saling balas ini merupakan kelanjutan dari rangkaian sengketa keamanan pelayaran di jalur strategis tersebut.
2. Dampak terhadap Harga Minyak Dunia
Akibat ketegangan tersebut, harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada perdagangan awal Asia hari ini:
- Minyak Brent: Naik sekitar 3,08% (2,34 dollar AS) menjadi 78,35 dollar AS per barrel.
- Minyak WTI: Menguat sekitar 3,09% (2,21 dollar AS) menjadi 73,62 dollar AS per barrel.
3. Penutupan Jalur Selat Hormuz
Terdapat laporan mengenai penutupan jalur tersebut oleh Iran setelah insiden serangan terhadap kapal yang melintasi rute tersebut. Data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan aktivitas di Selat Hormuz anjlok drastis, di mana hanya tercatat enam kapal yang melintas pada hari Minggu—jumlah terendah dalam lima pekan terakhir.
4. Dampak pada Pasar Keuangan
Lonjakan harga minyak ini memicu efek domino pada pasar keuangan, terutama di kawasan Asia, di mana bursa saham Asia dilaporkan mengalami penurunan (anjlok) akibat sentimen ketidakpastian ini. Selain itu, pasar emas juga bereaksi; harga emas justru merosot lebih dari 1% karena kekhawatiran bahwa kenaikan harga minyak akan memicu inflasi dan menghidupkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga global.
5. Mengapa Selat Hormuz Krusial?
Selat Hormuz merupakan titik nadi perdagangan energi global. Gangguan di kawasan ini secara otomatis memicu kekhawatiran pelaku pasar akan terhambatnya rantai pasok energi dunia, yang pada akhirnya menekan harga minyak ke arah yang lebih tinggi.
Pemerintah dan pelaku pasar global saat ini terus memantau situasi ini dengan sangat ketat, terutama untuk melihat apakah eskalasi ini akan berujung pada runtuhnya gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati atau masih dapat dikendalikan melalui jalur diplomatik.


More Stories
Buku Harian Tawanan Perang Dunia II Dipamerkan di Manila
Diprotes Pengguna, Meta Tarik Fitur Pembuat Gambar AI IG
Yen Melemah, Tren Liburan Warga Jepang Turun Sembilan Persen