Sadiq Khan Sambut Kemenangan Zohran Mamdani
Wali Kota London Sadiq Khan menyampaikan ucapan selamat terbuka kepada Zohran Mamdani setelah politikus muda itu memenangkan pemilihan wali kota New York. Dalam pernyataannya, Khan menilai kemenangan Mamdani sebagai simbol kuat bahwa harapan mampu mengalahkan rasa takut, terutama di tengah meningkatnya polarisasi politik global.
Ucapan tersebut disampaikan Khan melalui media sosial X pada Rabu, 5 November 2025, tak lama setelah hasil pemilu New York diumumkan secara resmi. Kemenangan Mamdani menjadi sorotan internasional karena ia mencatat sejarah sebagai wali kota Muslim pertama New York, sekaligus pemimpin termuda kota tersebut dalam lebih dari satu abad.
“Harapan Menang atas Rasa Takut”
Dalam unggahannya, Sadiq Khan menegaskan bahwa warga New York dihadapkan pada pilihan besar dalam pemilihan tersebut.
“Warga New York menghadapi pilihan yang jelas — antara harapan dan rasa takut — dan seperti yang telah kita lihat di London, harapan menang,” tulis Khan.
Ia juga menyebut kampanye Mamdani sebagai kampanye bersejarah yang berhasil menggerakkan partisipasi publik secara luas.
“Selamat yang sebesar-besarnya kepada Zohran Mamdani atas kampanye bersejarahnya,” lanjut Khan.
Pernyataan ini langsung mendapat perhatian luas karena mencerminkan solidaritas lintas negara antara dua tokoh Muslim progresif yang memimpin kota global.
Kemenangan Bersejarah di New York
Zohran Mamdani, berusia 34 tahun, berhasil mengalahkan dua kandidat kuat, yakni mantan Gubernur New York Andrew Cuomo dan politisi Partai Republik Curtis Sliwa.
Kemenangan ini bukan hanya signifikan secara politik, tetapi juga simbolis. Mamdani menjadi:
- wali kota Muslim pertama New York
- wali kota pertama keturunan Asia Selatan
- wali kota termuda dalam lebih dari 100 tahun
Ia dijadwalkan resmi dilantik pada 1 Januari 2026.
Dalam pidato kemenangannya, Mamdani menekankan identitas New York sebagai kota imigran.
“New York akan tetap menjadi kota imigran — kota yang dibangun oleh imigran, didukung oleh imigran, dan mulai malam ini, dipimpin oleh seorang imigran,” ujarnya seperti dikutip The Independent.
Pidato tersebut disambut tepuk tangan meriah para pendukungnya.
Partisipasi Pemilih Tertinggi dalam 50 Tahun
Badan Pemilihan Umum New York mencatat bahwa pemilihan wali kota kali ini mencetak jumlah pemilih terbesar dalam lebih dari setengah abad.
Lebih dari dua juta warga New York menggunakan hak pilihnya, sebuah angka yang mencerminkan tingginya antusiasme publik terhadap arah masa depan kota.
Pengamat politik menilai lonjakan partisipasi ini dipicu oleh:
- isu imigrasi
- biaya hidup
- perumahan
- ketimpangan sosial
- polarisasi nasional pasca kepemimpinan Donald Trump
Mamdani dianggap berhasil mengonsolidasikan pemilih muda, komunitas imigran, serta kelompok progresif.
Kesamaan Ideologi dengan Sadiq Khan
Sadiq Khan dan Zohran Mamdani memiliki banyak kesamaan, baik secara ideologis maupun latar belakang personal.
Keduanya adalah:
- politisi Muslim
- berasal dari keluarga imigran Asia Selatan
- menganut pandangan politik progresif
- kerap menjadi sasaran kelompok sayap kanan
Khan berasal dari keluarga imigran Pakistan yang tumbuh di London, sementara Mamdani lahir di Kampala, Uganda, dari keluarga keturunan India sebelum pindah ke Amerika Serikat saat berusia tujuh tahun.
Ayah Mamdani adalah akademisi dan penulis ternama Mahmood Mamdani, sementara ibunya adalah sutradara film terkenal Mira Nair.
Sama-sama Dimusuhi Donald Trump
Baik Sadiq Khan maupun Zohran Mamdani memiliki satu kesamaan lain: sering menjadi sasaran serangan Donald Trump.
Trump menggambarkan Mamdani sebagai “komunis” karena program-program sosial yang diusungnya, termasuk:
- transportasi publik terjangkau
- kebijakan perumahan berbasis subsidi
- perlindungan bagi komunitas imigran
Sementara terhadap Sadiq Khan, Trump telah melancarkan kritik sejak 2015, ketika Khan secara terbuka mengecam rencana larangan masuk Muslim ke Amerika Serikat.
Dalam beberapa kesempatan, Trump bahkan menyebut Khan sebagai “salah satu wali kota terburuk di dunia”.
Ketegangan Lama Trump dan Khan
Hubungan Trump dan Sadiq Khan telah lama diwarnai perang kata-kata. Saat kunjungan kenegaraan Trump ke Inggris pada September lalu, presiden AS itu mengklaim telah meminta agar Khan tidak menghadiri sejumlah acara resmi.
Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, Trump bahkan menuduh Khan ingin memberlakukan hukum syariah di London — tuduhan yang dibantah keras oleh wali kota tersebut.
Menanggapi hal itu, Khan menyebut Trump sebagai:
- rasis
- seksis
- misoginis
- Islamofobia
Dalam sebuah pernyataan tajam, Khan mengatakan bahwa ia heran mengapa dirinya “seolah hidup tanpa beban di kepala Donald Trump”.
Politik Identitas dan Tantangan Global
Kemenangan Mamdani dan dukungan terbuka dari Sadiq Khan mencerminkan perubahan besar dalam politik kota-kota global. London dan New York kini dipimpin oleh figur yang merepresentasikan:
- keberagaman
- pluralisme
- politik inklusif
- penolakan terhadap politik ketakutan
Kedua kota tersebut menjadi simbol bahwa masyarakat urban besar cenderung memilih pemimpin yang mengedepankan solidaritas sosial daripada nasionalisme sempit.
Harapan Baru bagi Politik Progresif
Bagi banyak kalangan progresif, kemenangan Mamdani dianggap sebagai sinyal penting menjelang pemilu nasional Amerika Serikat berikutnya.
Dalam pidatonya, Mamdani bahkan menyinggung perlawanan terhadap politik Donald Trump.
“Jika ada kota yang bisa menunjukkan kepada bangsa yang dikhianati Donald Trump bagaimana cara mengalahkannya, kota itulah yang melahirkannya,” ujarnya.
Pernyataan ini langsung viral dan dipandang sebagai pesan politik yang melampaui batas lokal New York.
London dan New York: Dua Kota, Satu Pesan
Ucapan Sadiq Khan kepada Zohran Mamdani tidak sekadar formalitas diplomatik, melainkan pesan simbolik bahwa kota-kota besar dunia dapat menjadi benteng nilai demokrasi, toleransi, dan keberagaman.
London dan New York kini dipimpin oleh tokoh yang lahir dari keluarga imigran, membuktikan bahwa politik global tengah mengalami pergeseran generasi dan identitas.
Penutup
Kemenangan Zohran Mamdani dan sambutan hangat dari Sadiq Khan menandai momen penting dalam sejarah politik urban dunia. Di tengah meningkatnya populisme dan politik ketakutan, dua kota global memilih arah berbeda — harapan, keberagaman, dan inklusivitas.
Seperti yang ditulis Khan, “harapan menang”. Dan bagi banyak orang, kemenangan Mamdani menjadi bukti bahwa pesan tersebut tidak hanya retorika, tetapi nyata dalam kotak suara.
Baca Juga : Modus Penjual Aksesori Komputer Bobol Platform Kripto
Cek Juga Artikel Dari Platform : otomotifmotorindo


More Stories
Prabowo Bertemu PM Inggris Bahas Kemitraan Strategis
Bertemu Pimpinan Oxford Cs, Prabowo Soroti Pendidikan
Indonesia–Inggris Resmikan Kemitraan Pertumbuhan Ekonomi